Bangka Belitung - TERA
Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) melihat adanya mata rantai yang
melibatkan berbagai komponen untuk meningkatkan kegiatan wisata, dan menarik
wisatawan nusantara (wisnus) dan mancanegara (wisman). Komponen dalam mata
rantai tersebut yakni atraksi, amenitas, aksesibilitas, pemandu wisata dan lain
sebagainya. Untuk komponen amenitas, pengelola wisata bahari sudah meningkatkan
fasilitas untuk wisatawan kapal pesiar atau cruise. “Untuk tahun ini,
ada dua kapal pesiar dari Perancis. Tapi booking, dealing sudah
sejak tahun lalu,” jelas Johnnie Sugiarto dari KEIN sektor Pariwisata Bangka
Belitung (Babel) kepada Tera baru-baru ini.
Jumlah wisatawan tersebut akan semakin meningkat jika Pemerintah Pusat
maupun Pemerintah Daerah serius dalam mengelola sektor pariwisata. Apalagi
pemerintah menempatkan sektor pariwisata bahari sebagai salah satu sektor
ekonomi andalan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami terus
bekerjasama dengan stakeholders untuk paket wisata kapal pesiar.
Dua kapal pesiar akan mampir ke Parai resort (Sungailiat, Bangka). Dua kapal
dengan waktu yang berbeda. Mereka tidak nginap di hotel Parai, tapi hanya
menikmati pantai, entertainment seperti live music,
karaoke. Banyak juga wisman yang tertarik dengan kuliner khas Bangka.
Kapal berangkat dari Perancis, tapi penumpangnya dari luar Perancis juga ada.”
Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas, sumberdaya kelautan
dengan aneka ragam ekosistem flora, fauna serta fenomena alam unik dengan
keindahan pemandangan merupakan potensi yang dapat dikembangkan dan
dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat, salah satunya
menjadi kawasan wisata yang dapat menarik wisatawan untuk datang. Sumber alam
yang dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata adalah berupa taman laut, pesisir
pantai, flora berupa hutan, keaneka ragaman fauna dan berbagai bentuk ekosistem
khusus.
Sementara itu, Johnie pemilik Parai Resort
di Pacitan (Jawa Timur), mengatatakan, “wisatawan mancanegara juga
semakin banyak. Spending mereka juga selama kunjungan juga terus
meningkat. Rata-rata lama kunjungan hanya dua hari. Tetapi beberapa tahun
belakangan ini, banyak turis yang sampai dua minggu liburan di Pacitan. Kebetulan
kelompok usaha Parai juga buka resort di Pacitan. Occupancy
rate bisa sampai 70 persen, walaupun sedang low season, ” imbuh Johnnie. Dijelaskan, pada high
season terutama Natal, Tahun baru, dan hari besar lainnya tamu harus
sudah booking tiga bulan sebelumnya. Seperti kondisi sekarang,
para tamu sudah booking untuk liburan panjang Idul Fitri (23 –
28 Juni 2017). Banyak wisnus dari Jakarta dan kota besar lainnya mengambil
jatah cuti untuk liburan. “Sekarang (Pebruari) sudah ada reservasi. Bahkan untuk wisman, paket wisata kapal pesiar,
(pengelola) sudah sounding untuk kunjungan tahun 2019.”
Hal senada juga diutarakan pasangan suami istri Eddi dan Stella dari Parai
Resort. Mereka mengatakan, optimis dengan bisnis jasa entertainment wisata
bahari. Eddi adalah pemain keyboard tunggal dan Stella yang juga istrinya
adalah singer (penyanyi). Mereka bekerjasama dengan management
Parai, keliling bermain music di berbagai resto, hotel di seluruh Indonesia.
“Tapi kebetulan saya kelahiran Sungailiat. Ibaratnya kampong kami sendiri.
Mungkin suasana bermain music di pantai, menghibur para wisatawan juga
lebih homy,” Eddi mengatakan kepada Tera beberapa hari yang
lalu.
Kunjungan Tera ke Parai, Sungailiat juga melihat langsung animo wisatawan
dengan keindahan pantai, laut Parai. Perjalanan dari bandara udara Depati Amir
kurang dari satu jam. Kondisi jalan juga relative lancar, praktis tidak ada
macet dan kerusakan jalan. Sepanjang jalan, lambaian pohon kelapa dan
rumah-rumah sederhana dengan atap rumbia masih terlihat. “Saya sebagai putra
daerah Sungailiat berterima kasih kepada pak Johnnie (pemilik Parai resort).
Karena beliau membangun resort di Parai, sehingga ekonomi daerah juga
meningkat. Saya juga semakin optimis dengan wisata bahari Bangka. Karena Bangka
juga sudah dikenal sebagai pulau sejuta pantai. Selain keunikan lain seperti
kelenteng. Bahkan pak Johnnie juga akan bikin paket wisata mining
tourism. Wisatawan diajak mengayak pasir timah. Mereka juga disuguhkan
makanan ringan khas Bangka. Sehingga suasana (wisata) seperti pada era puluhan
tahun yang lalu. Karena tambang timah adalah bagian dari sejarah Bangka.”
Kilas balik sejarah Bangka, yakni sebagian besar migran dari Tiongkok
Daratan (China mainland), fenomena pekerja kuli tambang timah. Seiring
perjalanan waktu, di Pulau Bangka yang berada di bawah Kesultanan Palembang
ditemukan timah, dan tenaga kerja yang dianggap berpengalaman adalah orang
Tionghoa suku Kejia yang memang terkenal memiliki keahlian di bidang
pertambangan.
Sultan Palembang meniru pengalaman
Sultan Perak dan Sultan Johor yang mempekerjakan pekerja tambang Tionghoa untuk
mengolah cadangan timah. Salah satu perintis yang diberi kepercayaan adalah Lim
Tau Kian, seorang Tionghoa Muslim asal Guang Zhou (Canton-Red), seorang sahabat
Sultan Johor. “Sehingga mining tourism bisa parallel dengan
wisata sejarah Bangka, wisata bahari juga. Semuanya sangat potensial menarik
wisatawan luar negeri.” (SL)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar