Senin, 20 Maret 2017

Amenitas Untuk Wisata Bahari, Kapal Pesiar Babel Ditingkatkan

Bangka Belitung - TERA


Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) melihat adanya mata rantai yang melibatkan berbagai komponen untuk meningkatkan kegiatan wisata, dan menarik wisatawan nusantara (wisnus) dan mancanegara (wisman). Komponen dalam mata rantai tersebut yakni atraksi, amenitas, aksesibilitas, pemandu wisata dan lain sebagainya. Untuk komponen amenitas, pengelola wisata bahari sudah meningkatkan fasilitas untuk wisatawan kapal pesiar atau cruise. “Untuk tahun ini, ada dua kapal pesiar dari Perancis. Tapi booking, dealing sudah sejak tahun lalu,” jelas Johnnie Sugiarto dari KEIN sektor Pariwisata Bangka Belitung (Babel) kepada Tera baru-baru ini.
Jumlah wisatawan tersebut akan semakin meningkat jika Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah serius dalam mengelola sektor pariwisata. Apalagi pemerintah menempatkan sektor pariwisata bahari sebagai salah satu sektor ekonomi andalan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami terus bekerjasama dengan stakeholders untuk paket wisata kapal pesiar. Dua kapal pesiar akan mampir ke Parai resort (Sungailiat, Bangka). Dua kapal dengan waktu yang berbeda. Mereka tidak nginap di hotel Parai, tapi hanya menikmati pantai, entertainment seperti live music, karaoke. Banyak juga wisman yang tertarik dengan kuliner khas Bangka. Kapal berangkat dari Perancis, tapi penumpangnya dari luar Perancis juga ada.”
Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas, sumberdaya kelautan dengan aneka ragam ekosistem flora, fauna serta fenomena alam unik dengan keindahan pemandangan merupakan potensi yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat, salah satunya menjadi kawasan wisata yang dapat menarik wisatawan untuk datang. Sumber alam yang dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata adalah berupa taman laut, pesisir pantai, flora berupa hutan, keaneka ragaman fauna dan berbagai bentuk ekosistem khusus.

Sementara itu, Johnie pemilik Parai Resort  di Pacitan (Jawa Timur), mengatatakan, “wisatawan mancanegara juga semakin banyak. Spending mereka juga selama kunjungan juga terus meningkat. Rata-rata lama kunjungan hanya dua hari. Tetapi beberapa tahun belakangan ini, banyak turis yang sampai dua minggu liburan di Pacitan. Kebetulan kelompok usaha Parai juga buka resort di Pacitan. Occupancy rate bisa sampai 70 persen, walaupun sedang low season, ” imbuh  Johnnie. Dijelaskan, pada high season terutama Natal, Tahun baru, dan hari besar lainnya tamu harus sudah booking tiga bulan sebelumnya. Seperti kondisi sekarang, para tamu sudah booking untuk liburan panjang Idul Fitri (23 – 28 Juni 2017). Banyak wisnus dari Jakarta dan kota besar lainnya mengambil jatah cuti untuk liburan. “Sekarang (Pebruari) sudah ada reservasi. Bahkan untuk wisman, paket wisata kapal pesiar, (pengelola) sudah sounding untuk kunjungan tahun 2019.”
Hal senada juga diutarakan pasangan suami istri Eddi dan Stella dari Parai Resort. Mereka mengatakan, optimis dengan bisnis jasa entertainment wisata bahari. Eddi adalah pemain keyboard tunggal dan Stella yang juga istrinya adalah singer (penyanyi). Mereka bekerjasama dengan management Parai, keliling bermain music di berbagai resto, hotel di seluruh Indonesia. “Tapi kebetulan saya kelahiran Sungailiat. Ibaratnya kampong kami sendiri. Mungkin suasana bermain music di pantai, menghibur para wisatawan juga lebih homy,” Eddi mengatakan kepada Tera beberapa hari yang lalu.
Kunjungan Tera ke Parai, Sungailiat juga melihat langsung animo wisatawan dengan keindahan pantai, laut Parai. Perjalanan dari bandara udara Depati Amir kurang dari satu jam. Kondisi jalan juga relative lancar, praktis tidak ada macet dan kerusakan jalan. Sepanjang jalan, lambaian pohon kelapa dan rumah-rumah sederhana dengan atap rumbia masih terlihat. “Saya sebagai putra daerah Sungailiat berterima kasih kepada pak Johnnie (pemilik Parai resort). Karena beliau membangun resort di Parai, sehingga ekonomi daerah juga meningkat. Saya juga semakin optimis dengan wisata bahari Bangka. Karena Bangka juga sudah dikenal sebagai pulau sejuta pantai. Selain keunikan lain seperti kelenteng. Bahkan pak Johnnie juga akan bikin paket wisata mining tourism. Wisatawan diajak mengayak pasir timah. Mereka juga disuguhkan makanan ringan khas Bangka. Sehingga suasana (wisata) seperti pada era puluhan tahun yang lalu. Karena tambang timah adalah bagian dari sejarah Bangka.”
 Kilas balik sejarah Bangka, yakni sebagian besar migran dari Tiongkok Daratan (China mainland), fenomena pekerja kuli tambang timah. Seiring perjalanan waktu, di Pulau Bangka yang berada di bawah Kesultanan Palembang ditemukan timah, dan tenaga kerja yang dianggap berpengalaman adalah orang Tionghoa suku Kejia yang memang terkenal memiliki keahlian di bidang pertambangan.
Sultan Palembang meniru pengalaman Sultan Perak dan Sultan Johor yang mempekerjakan pekerja tambang Tionghoa untuk mengolah cadangan timah. Salah satu perintis yang diberi kepercayaan adalah Lim Tau Kian, seorang Tionghoa Muslim asal Guang Zhou (Canton-Red), seorang sahabat Sultan Johor. “Sehingga mining tourism bisa parallel dengan wisata sejarah Bangka, wisata bahari juga. Semuanya sangat potensial menarik wisatawan luar negeri.” (SL) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar